Jumat, 30 November 2012

Arti persahabatan di malam terakhir


Sudah 3 tahun atau lebih tepatnya menjelang 3 tahun hidupku di sekolah ini, banyak lika-liku yang ingin kuceritakan pada kalian , tak apalah aku hanya sekedar berbagi cerita.
                Dimulai saat bulan juli 2010 aku memasuki masa baru dalam kehidupanku.’SMPIT Baitul Anshor’ terpampang dengan jelas nama sekolah ini, yang selanjutnya akan menjadi latar dan saksi bisu perjalanan selama 3 tahun hidupku.Setelah berhasil lulus UASBN sekolah dasar aku pun harus melanjutkan ke tingkat selanjutnya, yaitu SMP.Aku lulus dengan nilai yang cukup memuaskan dan akan sangat mudah bagiku untuk memasuki SMP Negeri favorit yang kuinginkan, tapi yang Maha Kuasa berkata lain.Sebuah sekolah beasiswa di daerah Bogor sudah menjadi targetku, segala usaha dan do’a kulakukan untuk menggapainya sebenarnya ada pilihan lain, yaitu sekolah asrama di Jakarta, namun karena beberapa hal aku mengurungkan niatku untuk sekolah kesana.Optimisme ku besar untuk memasuki sekolah di Bogor itu sampai akhirnya Tuhan member jalan berbeda, aku tidak lolos dalam seleksi akhir dan membuatku tak tau harus kemana lagi,karena pilihan lain sudah terlanjur diabaikan.Sampai akhirnya ayah ingat bahwa Murabbi nya adalah seorang pendiri suatu sekolah asrama di Cimahi.Pergilah aku untuk mendaftarkan diri ke sekolah itu yang lebih tepatnya bernama ‘SMPIT Baitul Anshor’.Sebenarnya aku sudah terlambat, karena pendaftaran sudah ditutup tapi saat seperti ini Tuhan malah berkehendak untuk memaksakanku masuk ke sekolah ini.Singkat cerita akupun akhirnya bersekolah di ‘SMPIT Baitul Anshor’ yang merupakan sekolah Asrama.Dan semua cerita dimulai, disini!
                Semua cerita ini tentang sahabat,cinta,keluarga, dan cita-cita.Tentang aku yang berhasil menemukan seorang sahabat yang begitu berarti dihidupku, yang mungkin tak pernah kubayangkan sebelumnya bahwa pertemuanku denganya adalah sebuah ketidak sengajaan.
                Hari pertama ku lewati dengan sebuah proses adaptasi yang disebut matrikulasi.Tak banyak cerita tertulis dia fase waktu ini tapi tetap, semuanya masih tersimpan di gallery kenanganku.Mulai di hari pertama belajar, berkenalan dengan guru,kawan,pemilihan ketua murid, adaptasi belajar dan segala hal yang terjadi lainya.Amazing! sebenarnya aku termasuk yang adaptasinya lambat, namun aku langsung terpilih menjadi wakil ketua asrama, hmm… awal yang baik fikirku.Tapi sebenarnya ada satu hal yang menarik saat awal-awal ku menjalani hidup di asrama,sebuah kebersamaan yang tak mungkin kudapatkan di sekolah biasa.Malam hari sebelum tidur, dalam satu asrama pasti memulai sesi berbagi cerita, kadang tertawa,kadang serius, sungguh hal baru bagiku, dan mungkin bagi yang lainya.
                Memulai cerita utamaku yaitu, tentang sahabat.Yang tak pernah terfikir dalam benakku adalah, pertemuan kami adalah ketidaksengajaan.Sesuatu yang membuat persahabatan kami kuat, dimulai dengan kata ejekan seperti ‘Onta Africa’ dan ‘Kuda Korsel’, lalu berubah dan berubah menjadi semakin kuat.Katanya kepadaku,”persahabatan kita bagaikan Bulan dan Bintang”, persahabatan kami pun bagaikan sahabt sejati.Tapi sebuah cerita tak seru tanpa adanya konflik, itulah inti dari sebuah cerita,kata guru Bahasa Indonesiaku.Persahabatan antara aku dan dia pun pernah dihiasi pertengkaran, karena 3 tahun bukan waktu yang singkat.Sebagai sahabat kami saling berjanji, dan kadang pertengkaran dimulai saat ada salah satu diantara aku dan dia ada yang mengingkarinya.Tapi sahabat sejati tak mungkin berpisah,selalu ada hal yang bias mempersatukan persahabatan itu.Mungkin aku lah yang harus banyak meminta maaf , karena aku lah yang paling banyak melanggar janji.Namun semakin lama waktu berlalu persahabatan itu dibumbui rasa lainya, maaf tak bisa kujelaskan.
Pergi Umrah…..
                Pada suatu hari, ia pamit kepadaku dan berkata,”Mungkin untuk beberapa hari kita ga akan ada kontak”.Aku pun bertanya,
                “Kenapa? Ada sesuatu hal?”, dia tak menjelaskan sampai akhirnya aku menebak bahwa ia akan pergi Umrah, dan ia pun mengiyakan.
                “Mau titip do’a?”,tanyanya padaku.”Hmm, boleh.. semoga kamu makin pinter, baik, dan banyaklah, dan satu .. semoga persahabatan kita ga akan terpisah dan semoga rasa aku ke kamu ga berubah”, itulah sebaris do’a yang kusampaikan pada-Nya lewat sahabatku itu.
                “Amin, do’a yang terakhir akan kupanjatkan pertama disana”, katanya padaku.

                Selama ia disana mungkin kesepian sangat kurasa, bagaimana tidak? Hamper segala macam rasa dan pengalaman aku bagi denganya.Saat ia pergi? Kemana cerita ini akan dibagi.Sampai akhirnya aku mengkhianati sebuah janji persahabatan, saat ia kembali jelas kekecewaan memenuhi ruang hatinya,aku memang bersalah dan keterlaluan.Kami pun mulai menjauh, menjauh, dan menjauh.Tapi apa pun maunya sahabat takkan terpisah, kami pun mulai kembali meniti tali persahabatan yang sempat putus.Semuanya pun berjalan , sungguh aku beruntung memiliki sahabat sepertinya, sangat beruntung.
                Sekarang aku sudah naik kelas, prestasi yang aku torehkan sangat mambanggakan, aku persembahkan untuk kedua orang tuaku.Pada saat kelas 2 ini persahabatan kami masih tetap tertulis walau tak dibumbui rasa yang dahulu pernah ada.Ceritaku tetap kubagi denganya, begitupun sebaliknya , walau ia mempunyai banyak tempat lain tak sepertiku.
Pernahkah kalian rasakan berada di tempat yang nyaman dengan mudah? inilah yang terjadi padaku.Mencoba untuk bertahan pada posisi yang nyaman ini, namun Tuhan berkehendak lain.Aku jatuh sangat jauh dan Tuhan pun bagai memerintahkan padaku “Pergi lagi ke tempat yang nyaman itu, namun kau harus memulai dari awal, tempat itu dicapai tak semudah yang kau kira”.Prestasi ku melorot jauh, turun 19 tingkat.”Aku harus memulai lagi, tempat itu milikku!”,jiwaku menggebu.
Semangatku bertambah saat ia , sudah memaafkanku atas kesalahanku dulu.Perlahan-lahan rasa itu muncul lagi, tanpa ku tau.Waktu berlalu, dan berlalu banyak kenangan tercipta, pengalaman tak terlupakan, dan cerita semakin banyak tertulis dari tanganku, tanganya , dan tangan Sang Pencipta cerita.
Tapi taukah kau kini? Sekarang sudah memasuki 3 tahun kita bersahabat, tak jarang kita bertengkar, tak jarang pula kita tertawa, saat kau sakit… saat ku sakit… kita berjanji tuk slalu menemani.Cerita makin seru mungkin bila jalan hidup kita dijadikan sebuah film, bukan bercanda sahabat.Persahabatan ini ditentang, salah seorang keluargamu tak ingin kehadiranku mengganggu keluarga kecil kalian.Aku pun harus menjauh, tak kusangka semakin lama waktu kebersamaan persahabatan kita, banyak pula pemeran baru yang akan masuk.Membuatku semakin tersisih dari sisimu.
Kau slalu menenangkanku, bahwa aku tetap sahabatmu apapun yang terjadi.Tapi ternyata arti ku dihidupmu pun semakin terkikis oleh pemeran baru di cerita hidupmu.Ku coba tuk bertahan, tetap menemanimu saat kau jatuh dan tersakiti.Sampai saatnya, keteguhan hatiku untuk tetap menjadi sahabat setiamu yang slalu disampingmu pun luluh.
Sebait lagu favoritku, kunyanyikan di suatu malam saat pertengkaran kecil kita terjadi.
“Sedih bila kuingat tengkaran itu
Membuat jarak antara kita
Resah tiada menentu, hilang canda tawamu
Tak ingin aku begini tak ingin begini….

Sobat rangkaian masa yang tlah terlewat
Buat batinku menangis
Mungkin karena egoku mungkin karena egomu
Maaf aku buat begini maaf aku begini
…………………………………………………………
Dan saat kunyanyikan lirik ini, tak apalah aku menangis walau aku seorang lelaki.

Bila ingat kembali janji persahabatan kita
Tak kan mau berpisah karena ini
Pertengkaran kecil kemarin cukup jadi lembaran hikmah
Karena aku ingin tetap sahabatmu…….

Dan mulai saat ini, bila kau membaca cerita ini kuhanya ingin sampaikan.Biarkan aku tetap sahabatmu, walau raga tak disampingmu, aku tak pernah pergi…. Karna sahabat tak pernah berpisah, maka percayalah,
Suatu saat aku akan kembali, tuk penuhi ‘Janji’ itu.

(selembar tisu yang aku genggam akan tetap kering, sebelum menemui air matamu)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar